A Journey to Cisungsang – Part Three

Sungai Cisitu mungkin berasal dari mata air di Gunung Halimun. Airnya sangat jernih. Marcos dan Oji yang sempet turun ke sungai itu mengatakan bahwa airnya dingin menusuk tulang. Rasanya sedikit masam namun enak.

Memandang aliran sungai dari atas jembatan yang masih berupa tumpukan balok kayu membuat kami serasa berada entah dimana. Sayang, hanya sebentar kami disitu. Pertemuan kami dengan seorang rekan sesama skuteris dari Pelabuhan Ratu membuat kami tahu bahwa tempat yang kami tuju telah terlewat. Setelah mengobrol sebentar, kami pun lantas balik arah.

Menjelang magrib kami sampai di tujuan. Kompleks kediaman Abah Usep, Lurah Cisungsang. Kepada para pegawainya yang standby di “kantor”, kami sampaikan maksud kedatangan kami, yaitu ingin bersilaturahim dengan Abah Usep dan juga kasepuhan Apih Adeng. Kami pun lalu dipersilakan langsung menuju kediaman Abah Usep di sebelah bawah.

Seorang wanita menyambut kedatangan kami dan segera setelah tahu maksud kedatangan kami, ia pergi lagi ke dalam. Sambil menunggu kami tak henti memperhatikan keadaan di sekitar. Pelataran luas yang resik rapi di hiasi oleh 3 buah cemara yang asri. Di kiri dan kanan tampak dua bangunan besar dengan gaya joglo tempat berkumpul. Di sana sini tampak “leuit” sebagai tempat penyimpanan padi huma.

Tak lama datang seorang lelaki yang sepertinya merupakan bagian rumah tangga disitu. Berbincang sejenak kami sekali lagi mengutarakan maksud kedatangan kami. Sedikit membuka wacana silsilah ternyata membuat suasana tampak cair. Segera setelah itu tampak Abah Usep menemui kami. Namun sayang, beliau harus segera pergi ke kantor kecamatan untuk urusan Pemilu yang belum selesai.

Rumah Abah Usep ini masih mempertahankan ketradisionalan. Dinding dari gedek bambu, atap ijuk, tiang-tiang kokoh dari kayu hutan, lantai papan kayu jati, namun di teras depan sudah menggunakan keramik. Desain yang sederhana membuat ruang-ruang begitu luas. Mungkin memang dimaksudkan untuk menampung banyak orang. Ini terlihat dari ruang belakang yang tanpa dinding ketika kami dipersilakan makan malam. Begitu luas sehingga mungkin cukup jika dijadikan lapangan bulutangkis.

Malam itu kami berkesempatan bertatap muka dengan Apih Adeng. Beliau adalah tokoh terpandang di kaolotan Cisungsang. Selama hampir 3 jam kami mengobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Tidak bertema. Apa saja yang ada di kepala kami masing-masing, ya itulah yang menjadi bahan obrolan. Ketika udara semakin menusuk tulang dan mata kami mulai terlihat mengantuk, Apih Adeng dengan santun mengundurkan diri dan mempersilakan kami tidur.

Sering datangnya para tamu membuat tuan rumah telah siap menyediakan banyak kasur dan selimut tebal untuk kami. Di ruangan itulah kami merebahkan diri dan berbagi cerita sebentar untuk selanjutnya lelap di dinginnya malam.

bersiap-tidur

Keesokan paginya kami telah rapi. Tak ingin melewatkan suasananya, kami pun berkeliling areal kediaman Abah Usep. Berikut ini adalah beberapa foto yang kami buat disana.

[nggallery id=1]

Dan saatnya kami pulang. Setelah berpamitan kami langsung menuju Cisiih untuk mampir ke rumah Ki Ismail, guruku. Setelah makan siang dan berbincang mengenai segala hal dengan Ki Mail, pukul 16 kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Pandeglang. Pulang.

- TAMAT -

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Artikel Terkait :

Belum ada komentar

Tulis komentar

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten