A Journey to Cisungsang – Part Two
Namanya Cecep Purwadinda. Beliau adalah adik ayahku yang kini menjadi salah seorang paman yang menjadi panutanku. Di era 80-an beliau adalah seorang lurah Bayah. Keberanian dan kesangarannya membuat para jawara dan kriminal menggigil jika berhadapan dengan kemarahannya. Namun kewelasasihannya membuat banyak warga tertindas tak ragu untuk mengadukan apa pun pada beliau. Kharisma kuat yang ada pada beliau itulah yang membuatnya sangat disegani dan terkenal. Selain itu, wawasannya mengenai Bayah dan kemampuannya memetakan silsilah sangat luar biasa. Mungkin karenanya pula ia sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Lebak di era sebelum reformasi. Hingga kini sifat beliau ini membuat rumahnya sering disinggahi orang-orang yang datang untuk berkonsultasi apapun.
Kebijakannya dan pengayomannya membuatku tidak ragu untuk membawa rombongan teman-teman untuk singgah di rumahnya. Begitu juga hari itu. Kalimat pertama setelah kami bersalaman dengannya adalah pertanyaan apakah kami sudah makan atau belum . Langsung saja kujawab : “belum!”. Dan beliau langsung menyuruh pembantu di rumahnya untuk segera menanak nasi dan menyiapkan makan untuk kami. Seorang teman yang merasa tidak enak hati mencoba berbasa basi. Namun ia dijawab dengan tegas bahwa lebih baik jujur bilang belum daripada basa basi bilang sudah tapi perut terdengar keruyukan.
Di Bungkeureuk itu kami lumayan lama berisitirahat. Pukul 16, ketika hujan telah reda kami pun melanjutkan perjalanan.
Sore itu alam sepertinya memang diperuntukkan bagi kami. Teduh. Sejuk. Kami pun tidak terburu-buru memacu Vespa. Kami menikmati pemandangan di kiri kanan jalan, seraya berhati-hati karena jalan yang terus menanjak namun berliku-liku.
Udara dingin mulai menusuk ketika kami telah menempuh 10 Km perjalanan. Cikotok. Jalanan mulai menyempit dan lebih berkelok lagi. Basah karena bekas hujan membuat jalan terasa licin. Kian lama jalan semakin terasa menanjak. Terjal dengan kelokan tajam dan berkarakter ciluk-ba membuat kami ekstra hati-hati. Bukan apa-apa, di kanan kami ada dinding tebing yang tinggi yang membuat kami tidak bisa mengetahui ada apa dibalik tikungan. Celakanya, jika kami tidak berhati-hati, jurang sedalam ratusan meter di sisi kiri kami siap mengubur siapa pun yang ceroboh terpeleset. Dus, teman-teman yang sudah banyak makan asam garam turing pun menciut nyalinya dan memacu vespanya perlahan saja.
Semuanya sepakat bahwa ini adalah salah satu medan turing yang paling berkesan. Udara yang menghembus dingin, langit sore yang teduh, jalanan yang berkelok-kelok namun terhitung mulus, dan pemandangan indah di kiri kanan jalan membuat kami memberi penilaian itu. Beberapa kali kami melihat areal-areal pertambangan yang menyisakan bekasnya di dinding bukit. Ya, sepanjang jalan Cikotok hingga Cisungsang merupakan daerah pertambangan yang telah begitu tua. Sejak era emas hingga kini, batuan mineral.
Cisungsang sendiri berada 15 Km dari Cikotok. Berada di gerbang menuju Taman Nasional Gunung Halimun, Cisungsang menyuguhkan panorama alam yang indah. Sayang, jalanan kesana rupanya belum diperbaiki. Menurun tajam dan lagi-lagi berliku kini harus ditambah dengan sempit dan rusaknya jalan. Namun demikian kami tetap dihibur oleh pemandangan dan suasana pedesaan yang khas. Para lelaki yang baru pulang dari ladang, remaja lelaki yang sedang mencuci motornya, dan gadis-gadis yang menyebarkan aroma wangi karena baru saja mandi membuat suasana hati kami seperti berada di negeri yang lain.
Tak ingin melewatkannya, kami lalu berhenti di sebuah tebing dengan pemandangan pegunungan. Atap-atap rumah yang berada di bawah tampak seperti barisan kotak kecil. Kehijauan yang agak pudar diselubungi kabut, padi huma yang masih hijau, kitiran kincir mainan yang menderu-deru di puncak pepohonan melengkapi keindahan sore itu. Luar biasa.

Tags: Anggota Dprd, Basah, Bayah, Bekas, Buru, cikotok, Cisungsang, Dinding, Hujan, Jawara, Journey To Cisungsang, kabupaten lebak, Kalimat, Kanan, kemampuan, Kharisma, Licin, Luar Biasa, Lurah, Paman, Pemandangan, Pertanyaan, Perut, Ragu, Seraya, Silsilah, Terkenal, Turing, vespa






















































Belum ada komentar
Tulis komentar