Berkhayal tentang Jurnalisme Investigasi

As a general rule the most successful man in life is the man who has the best information. Benjamin Disraeli (1804 – 1881)

Informasi, seperti juga banyak bidang yang lain, telah mengalami pergeseran nilai. Kini informasi bukan hanya sekedar komoditas melainkan lebih dari itu, informasi juga mengandung suatu kekuatan yang bisa dijadikan sebagai sumber kekuasaan.

Pembahasan mengenai informasi mau tidak mau tentu tak akan lepas dari ranah pers. Runtuhnya rezim otoriter Suharto, yang selalu membungkam pers yang “vokal” dan mengendalikan  alur keluar masuk informasi, membawa suasana pers lebih “merdeka”. Ratusan media massa (cetak) mendadak diizinkan terbit.

Masalahnya sekarang, apakah materi yang disajikan oleh media dapat memenuhi dahaga informasi pembacanya? Mari kita fokuskan sorotan pada media massa (cetak) di Provinsi Banten.

Hari tadi (18/3/2009) aku memperoleh sebuah pesan di facebook yang mengatakan bahwa situs web sebuah media massa Banten tidak lagi di update. Pemberi pesan itu menengarai bahwa setiap kali ada isu panas mengenai Bupati Pandeglang, Ahmad Dimyati Natakusumah, media itu terkesan “ogah-ogahan” mengupdate beritanya.

Lalu coba ingat-ingat lagi berita-berita yang kita baca dari media massa cetak  lokal Banten. Berapa persen berita yang memiliki kedalaman dalam reportasenya? Rata-rata pemberitaan media massa hanya ada di tataran permukaan. Hanya kulitnya saja. Pada saat kita berharap ada informasi yang lebih mendalam, kita seringkali kesulitan mencarinya. Terlebih jika mencari berita-berita “panas” yang mengungkap SECARA MENDALAM dan membongkar sebuah kebobrokan.

Hari ini aku pun lalu berkhayal tentang jurnalisme investigasi. Dalam khayalku tampak wartawan-wartawan yang tengah giat melakukan reportase. Mereka bebas dari “amplop-amplop” yang sering digunakan sebagai alat untuk meredam pemberitaan. Mereka tidak gentar menghadapi ancaman dan intimidasi. Yang ada di benak mereka hanyalah bahwa masyarakat membutuhkan informasi dan berhak mendapatkannya. Siang dan malam mereka pun mendedikasikan dirinya untuk melakukan investigasi. Mereka melakukan jurnalisme investigasi.

De Burgh (2000) menyatakan bahwa :

“An investigative journalist is a man or woman whose profession it is to discover the truth and to identify lapses from it in whatever media may be available. The act of doing this generally is called investigative journalism and is distinct from apparently similar work done by police, lawyers, auditors and regulatory bodies in that it is not limited as to target, not legally founded and closely connected to publicity”.

Secara garis besar, jurnalisme investigasi adalah sebuah metode peliputan untuk menyibak kebenaran kasus atau peristiwa. Wartawan investigasi dituntut agar mampu melihat celah pelanggaran, menelusurinya dengan energi reportase yang besar, membuat hipotesis, menganalisis, dan pada akhirnya menuliskan laporannya.

Jurnalisme investigasi ada ketika terjadi penyimpangan dalam suatu tatanan masyarakat. Dalam hal ini pers punya peranan sangat penting untuk dapat menginformasikan peristiwa yang menyimpang itu. Tidak berhenti sampai titik ini, pers juga bisa melangkah jauh mengusut kesalahan, menemukan kebenaran, dan mengadakan perubahan.

Namun, hanya sebentar aku berkhayal. Dering telepon menyadarkanku bahwa aku tinggal di dunia nyata Banten. Seketika sosok-sosok wartawan spartan itu lenyap. Seketika keindahan tatanan, yang selalu terjaga oleh pengawasan media yang kritis dan berani serta bebas dari kepentingan politis, juga lenyap. Aku ternyata masih berada di sini. Banten.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Artikel Terkait :

Belum ada komentar

Tulis komentar

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten