Dua hari yang lalu aku sempat melontarkan sebuah pertanyaan - mungkin tepatnya sebuah perasaan - pada istriku, "Bu, Dede kira-kira bahagia ngga ya punya orang tua seperti kita?" Yang kumaksudkan Dede adalah Lala, anak perempuan 8 bulanku. Mungkin pertanyaan itu terlalu berat untuk dicerna istriku yang masih muda (24 tahun). Namun, sebuah obrolan mengenai anak membuatku teringat lagi pada pertanyaan itu.
Pembahasan ini selalu saja membuatku merasa kecil. Aku belum memberikan upaya terbaik untuk Lala. Lihat saja hari ini. Pagi hari aku berangkat, padahal baru sebentar aku bercengkrama dengan Lala. Lalu tadi aku pulang dan baru sampai di rumah pukul 21.30. Dan Lala kutemukan telah terlelap di samping ibunya.
Apakah Lala bahagia punya orang tua seperti aku? Pertanyaan ini akhirnya membuat aku terlibat dalam diskusi dengan istriku untuk mengevaluasi semuanya tentang Lala. Sejak awal (baca artikel ini) aku telah disadarkan bahwa Lala, meskipun lahir sebagai anakku, namun aku tak menganggapnya seperti kebanyakan orang tua berpersepsi tentang anak.
Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Akan tetapi, aku tidak lantas menganggap anak sebagai anak buah yang lantas mengabdi (laksana robot) padaku sebagai orang tua. Aku tidak memposisikan diri sebagai "penguasa" atas diri mereka. Mereka adalah makhluk otonom yang memiliki rasa, pikir, dan pilihan. Mereka berhak ...