65 Tahun

Enam puluh lima tahun. Ini usia kemerdekaan atau cuma angka yang menunjukkan kesekian kalinya hari proklamasi diperingati? Ya sudah, mari kita berpikir positif saja. Kemarin itu memang hari peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Kemerdekaan setidaknya dari imperial Belanda maupun Jepang. Ini adalah kado indah bagi para syuhada dan para pejuang kemerdekaan yang telah rela berkorban, bersusah-susah, seringkali harus berpisah dengan keluarga demi berperang. Kado? Ya! Karena mereka berperang dengan dasar itikad baik, bukan karena iming-iming gaji atau honor atau uang perjalanan dinas atau apalah istilahnya. Hingga kini sentimen proklamasi masih saja dilekatkan pada peristiwa-peristiwa heroik perjuangan para pahlawan. Bagi para veteran perang kemerdekaan yang masih hidup, sentimen ini tentu saja sangat kental dirasakan. Tapi bagi generasi ingusan saat ini, nilai rasanya sulit diperoleh. Termasuk oleh saya. Persoalannya sekarang, apakah 17 Agustus itu adalah titik untuk mengadakan segala seremoni monumental ataukah titik di mana kita seharusnya berhenti sejenak untuk mengevaluasi semerdeka apakah sebenarnya bangsa ini? Di usia yang ke-65 ini sudah pada tahapan apa konstruksi bangunan Indonesia? Bangunan kokoh nan megah, tahan gempa ekonomi, dan tahan abrasi intervensi asing? Atau gubuk reyot yang mudah roboh oleh satu goyangan tangan Soros? Alih-alih membayangkan bentuk Indonesia, saya malah mempertanyakan  kondisi pondasi agung yang dipancangkan oleh para founding fathers ...

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten