Gazeboh
Perjalananku ke Baduy kali ini cuma ditemani oleh Chandra. Semula kami hendak berangkat naik motor, namun hujan plus petir dan dingin yang akan melanda kami membuat kami memutuskan untuk naik angkutan umum (ELF) saja.
Jam 17.00. Kami sebenarnya ragu apa masih ada angkutan ke Ciboleger atau tidak. Beruntung, tak lama datang mobil jurusan sana yang lewat. Tetapi, sesaat setelah di atas mobil, sopirnya bilang bahwa mobil hanya sampai di Leuwidamar saja.
Walah, kami pun harus cepat mengambil keputusan. Lantas kami sepakat untuk terus saja, dengan harapan mudah-mudahan di Leuwidamar bisa nyambung ke Ciboleger dengan apa pun yang bisa kami tumpangi.
Di terminal Aweh, mobil berhenti. Di pinggir jalan kulihat ada ELF lain yang sedang berhenti. Kondekturnya memberi tahu bahwa itulah mobil yang bisa sampai ke Cilboleger.
Tapi kegembiraan itu harus dibarter dengan kenyataan bahwa kami harus menunggu 2 jam hingga mobil bisa berangkat. Sopirnya bilang bahwa ia menunggu penumpang dari Jakarta yang saat itu masih di kereta (KRD Jakarta – Rangkasbitung). Aku dan Chandra akhirnya cuma bisa nyengir kuda. Apa ini akal-akalan sopir sambil nunggu angkutannya penuh? Meneketehe.. TapiĀ sudahlah, daripada ga bisa nyampe sana, jam berapapun kami tunggu saja…
19.30, setelah 2 jam penantian, ELF akhirnya berangkat dan satu jam berselang kami pun tiba di Ciboleger.
20.45. Syarif dan istrinya sudah menunggu kami di rumahnya sejak tadi sore. Tak lama kami sampai di rumahnya ia mengajak kami makan. Ia bilang bahwa masakan itu sudah dipersiapkan sudah sejak jam 15 sore tadi. Tapi, tak peduli pada kualitas masakan, menu nasi – ikan asin – pete bakar kami makan dengan lahap sambil mengobrol ngalor ngidul.
Obrolan kami rupanya tak bisa membuat kami begadang. Syarif yang kecapaian setelah seharian bekerja di huma, udara malam yang dingin, dan suasana yang nyaman tenteram membuat kami pun segera tertidurĀ pulas di bale-bale bambu rumah Syarif.
Oh ya, perjalananku dan Chandra ke Baduy kali ini adalah terkait persiapan launching website KANEKES.COM. Menurut jadwal, web ini akan kami luncurkan pada 8 Desember 2008 yang akan datang. Deadline yang semakin dekat cukup membuat kami sibuk menyiapkan seluruh bahannya, sehingga dalam 2 minggu ke depan kami masih harus melakukan beberapa perjalanan lagi ke Baduy.
Pagi hari. Setelah sarapan, kami aku, Chandra, dan Syarif berangkat ke Gazeboh. Dan ini lah beberapa foto yang kami dapat selama perjalanan itu.
[slideshow=4]
Hari itu kami berpapasan dengan beberapa rombongan tamu yang datang maupun pulang. Dalam perjalanan kembali dari Gazeboh, rombongan yang kami temui berasal dari Panorama Tour. Tampaknya mereka adalah karyawan perusahaan itu. Yang menarik adalah ekspresi kelelahan mereka.. Muka merah padami yang dibanjiri keringat mengucur… Pertanyaan utama mereka pada kami adalah : “Masih jauh ya Gazeboh?”
Yap, bagi yang belum pernah berpetualang ke Baduy, perjalanan ke sana menawarkan petualangan tersendiri. Desa adat, alam yang terjaga, tanjakan dan turunan curam dengan pemandangan rumah-rumah tradisional… Keheningan malam tanpa listrik, tanpa TV… Tak ada sinetron sampah tayang disana, tak ada idol-idolan yang terbukti menggerogoti mental remaja… Bersih, tertib, hening… harmonis.
Banyaknya tamu yang datang kadang membuatku khawatir akan masuknya pengaruh buruk pada penduduk desa. Tapi semoga saja tidak. Meski demikian, bahkan di Gazeboh yang tidak aliran listrik pun, para remaja mulai banyak yang menenteng telepon genggam… Beberapa spanduk promo dari Indosat pun terpasang di beberapa rumah di Gazeboh… Huh..!! Keterlaluan ini orang-orang Indosat, masa iya di tempat ini pun mereka mau promo produk mereka. Kalo mau dateng ya dateng aja berkunjung… pelajari kearifan masyarakat Baduy itu, tapi mbok ya jangan bawa-bawa misi marketing kalian!!! Tuh buktinya keaslian Gazeboh pun agak terganggu olehnya.
Sayang sekali, perjalanan kali ini dibatasi oleh waktu. Syarif bilang, angkutan umum terakhir menuju Rangkasbitung berangkat pukul 13.30. Pukul 13.00 kami pamit. Dan sial… angkutan umum terakhir itu baru saja berangkat! Dalam bingung menentukan keputusan, seseorang yang kami kenal datang. Segera kami minta diantar naik motor mengejar mobil itu.
Wiyy… agak ngeri juga dibawa ngebut naik motor di jalanan yang berkelok turun naik. Untunglah cuma beberapa kilometer saja. Akhirnya angkutan umum itu tersusul.. dan kami pun pulang.
Tags: baduy, batas, ciboleger, Gazeboh, harapan, Jembatan Gazeboh, Sasak Rawayan























































Belum ada komentar
Tulis komentar