Ikan Mentah? Pasrah Saja…
Setelah rencana minggu lalu yang dibatalkan, jadi juga aku berangkat ke Baduy. Sebelumnya, rencana ini dibatalkan karena Syarif (orang yang hendak ku temui) masih sibuk shooting “Si Bolang” dengan kru Trans 7. Tapi memang kebetulan saat itu pun aku dan Kang Uday berhalangan juga. Aku “dikepung” oleh pekerjaan kantor, sementara Kang Uday harus ikut acara bedah buku.
Sebenarnya tadi pagi Syarif memberi kabar via telepon bahwa hari ini pun ia tidak dapat kutemui karena ia harus pergi ke Cibeo. Tapi pagi tadi aku tetap dijemput oleh Kang Uday, Pak Pardi (Kepala BPTP Provinsi Banten), dan Adjie Queen (seorang manajer EO kondang di Pandeglang). Jadilah kami berangkat kesana dengan tambahan kawan: Chandra (seorang fotografer) dan Obie (seorang putra tokoh masyarakat Desa Cimarga – Lebak).
Serasa belum lama aku pergi ke Ciboleger, tapi jalanan ke sana sekarang sudah banyak berlubang. Faktornya bisa jadi karena kualitas bahan jalannya yang kurang tahan lama (tapi tentang ini butuh referensi dari ahlinya), truk-truk besar yang hilir mudik mengangkut Sumber Daya Alam dari kawasan sana (tapi ini pun perlu data statistik yang jelas), tanah yang labil di beberapa tempat (ini dugaan pada jalan yang di kiri-kanannya terdapat sawah), maupun erosi air (bener ngga ya??). Oleh karenanya, bagi teman-teman yang hendak pergi kesana agar berhati-hati, apalagi jika mengingat sempitnya jalan dan rutenya yang berliku-liku dengan belokan tajam dan tanjakan serta turunan yang tajam. Sebisa mungkin jangan memakai sedan. Jika memungkinkan, gunakan kendaraan dengan ground clearance yang cukup tinggi seperti Mitsubishi Strada yang aku tumpangi tadi pagi.
Mengingat tidak bisa bertemu dengan Syarif, aku langsung mereka-reka apa yang sebaiknya dilakukan. Beruntung, di parkiran kawasan Ciboleger kami bertemu dengan Ayah Mursid dan rombongannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Di rumah singgah (yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Banten) kami pun mendiskusikan hajat kami dengan Ayah Mursid dan teman-teman Baduy lainya. Aha..!! Tak dinyana semua urusan begitu mudahnya diselesaikan. Sekali rengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Beberapa poin yang sebelumnya belum dijadualkan akhirnya selesai hari tadi.
Ngalor ngidulnya diskusi membuat waktu terasa begitu singkat. Tak terasa pula perut sudah mulai keroncongan, tapi hingga jam 2 siang teman-teman Baduy yang disuruh Ayah Mursid untuk “ngaliwet” tetap belum menyelesaikan tugasnya. Kang Adjie yang penasaran menengok keadaan di dapur. Hah..!! terang saja mereka begitu lamanya memasak, lha wong di dapur cuma tersedia satu kompor minyak kecil dengan api yang alakadarnya, padahal makanan yang harus diolah cukup banyak. Untuk sekitar 20 orang ternyata harus memasak nasi di panci yang kecil sebanyak 3 kali. Untuk menggoreng 4 kg ikan mas, entah berapa tahap teman-teman menggorengnya. Belum lagi sambal. Belom juga ikan asin.. dan petai yang kupesan….
Hingga pembahasan solusi mengenai pembenahan fasilitas di rumah singgah itu (penambahan perabotan seperti kompor gas, dispenser, kasur, kursi, dll; perbaikan atap yang bocor disana sini; penataan konten) selesai, kru di dapur tetap belum selesai memasak! Jam 3 sore, akhirnya diputuskan untuk segera makan dengan hidangan yang sekiranya siap. Dan….

Botram
Hahaha.. mungkin karena tekanan dari banyak orang yang selalu menanyakan makan, maka “para koki” di dapur stress dan terburu-buru memasak. Alhasil : nasi liwet yang agak keras, sambal yang tidak keruan rupa dan rasanya, ikan asin yang belum sempat digoreng… dan yang paling parah adalah : goreng ikan mas yang rupanya masih setengah matang bahkan ada yang masih merah…!! Apa boleh buat, perut kami sudah begitu intensnya berunjuk rasa (mungkin setara dengan unjuk rasanya Kang Uday CS di Kejati Banten hehehe). Kami dan Ayah Mursid beserta rombongannya tertawa pasrah saja menyikat nasi keras dan ikan mas mentah itu……
So long teman-teman Baduy-ku….!! Semoga kita masih diberi kesempatan tuk bertemu dan semoga urusan kita di depan di-ridhoi Tuhan.
Tags: ayah mursid, baduy, Banten, BPTP, ciboleger, ikan mas, Kejati Banten, Pemerintah Provinsi Banten, rumah singgah, rute ke baduy, Si Bolang, suhada, Trans 7, uday, unjuk rasa






















































Belum ada komentar
Tulis komentar