Ironi Spidol
Alhamdulillah, diskusi yang bertajuk Dialog Budaya VI terlaksana lancar. Banyaknya peserta yang hadir dan adanya liputan dari para reporter media cetak dan televisi secara nyata langsung menggiring kita pada penilaian ini, padahal ini adalah acara budaya yang biasanya tidak cukup membangkitkan minat orang untuk hadir, terlebih di saat lapar dan haus dalam ramadhan ini. Entah karena bobot penyelenggaraan dengan kolaborasi tim yang bagus ataukah karena ada insentif datangnya narasumber sekelas Rizal Mallarangeng yang membuat acara ini semarak.
Sangat kebetulan aku duduk di jajaran terdepan bersama para narasumber dan moderator, jadi aku bisa menyimak dengan baik seluruh sesi paparan maupun dialog dengan peserta.
Acara dibuka pada pukul 15.35 ditandai dengan dimulainya sessi “Ngarajah” yang berlangsung 10 menit oleh Dadan Sujana dengan iringan instrumen kacapi suling Kang Alam. Kemudian dipaparkan hasil survey sosial kemasyarakatan oleh N. Wahyudin selama 10 Menit. Dengan dimoderatori Uday Suhada, Kang Ali Fadhillah mengawali diskusi dengan membuka wacana tentang Banten, dg poin 1) terjadinya distorsi dalam pemerintahan, 2) ada kearifan yang ingin diangkat : siapa yang salah? pemerintah atau masyarakat, dan 3) tentang perbedaan mencolok antara budaya Sunda dengan Jawa terkait dengan tradisi pemerintahan lokal.
Lalu pada sessi berikutnya Bang Rizal Mallarangeng memberikan paparan dengan poin : 1) proses besar setelah reformasi, 2) tentang desentralisasi yang merupakan revolusi diam-diam yang dampaknya luar biasa besar bagi bangsa dan akibat-akibat yang menjadi konsekuensinya terlebih pada daerah yang tidak memiliki tradisi pemerintahan lokal yang berakar kuat, dan 3) tentang isu-isu pemerintahan saat ini.
Sebagaimana telah aku sebutkan dalam posting sebelumnya, maka acara ini sebenarnya diarahkan pada penyadaran akan fakta di lapangan bahwa masyarakat pandeglang tidak cukup paham dengan keadaan di negerinya. Dengan acara ini diharapkan dapat mengetuk hati dan benak para tokoh untuk lebih concern pada masyarakat dan tentunya segera bergerak demi mereka. Kedua paparan dari dua narasumber telah mengarah kesana, tapi rupanya tidak setelah itu.
Ketidaknyamanan ini mucul sejak sessi dialog dibuka. Sessi dialog lebih banyak menjadi ajang penyampaian ketidakpuasan tentang isu korupsi di Pandeglang dan beberapa justru memanfaatkan kehadiran Rizal Mallarangeng dengan memintanya untuk turut memperjuangkan dikeluarkannya surat ijin pemeriksaan dari Presiden terhadap Bupati Pandeglang.
Oke, hal ini bisa dipahami mengingat memang proses hukum yang terkesan lelet. Tetapi jika saja peserta mau lebih cerdas maka forum ini semestinya dijadikan arena untuk berdiskusi untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang ada (yang sudah tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah tercover oleh media). Semestinya forum ini menghasilkan sebuah kesepakatan mengenai tata pamong yang seperti apa yang diharapkan dan kearifan lokal yang mana yang harus diaplikasikan dalam tata pamong tersebut. Namun apa mau dikata, pancingan dari paparan para narasumber tidak banyak ditangkap oleh kebanyakan peserta.
Akibatnya, setidaknya dimataku, diskusi ini tidak mencapai sasaran idealnya. Para tokoh penting yang datang terlambat, mahasiswa yang sepanjang acara terlihat sibuk mengobrol dengan rekan di sebelahnya, pertanyaan yang lebih mengarah pada tuntutan (menuntut segera dikeluarkan surat ijin pemeriksaan, menuntut digantinya para ekonom kapitalis dengan ekonom kerakyatan, menuntut blangko KTP, dan lain-lain), para akademisi yang justru malah diam saja… membuatku sedikit pesimis mengenai harapan diperolehnya umpan balik dari acara ini.
Puncak dari ketidaknyamanan ini adalah hilangnya 4 buah spidol yang dipakai untuk menandatangani kanvas kenang-kenangan sehingga beberapa orang tidak dapat menorehkan tanda tangannya di kanvas itu. Meski sudah dicari kemana-mana, tapi tidak ketemu juga. Heran, sebelumnya ada tapi hanya sekejap ditinggal santap buka puasa langsung raib. Masa iya ada yang ngantongi? Masa iya setelah heboh membicarakan kotornya pemerintahan, isu korupsi, dan tentang berlaku arif koq masih ada yang “korupsi” spidol? Kalo ini bener, ya pantas saja negeri kita seperti ini, banyak KKN. Lha wong ternyata jika ada “kesempatannya”, bangsa kita langsung “kreatif” saja… Spidol aja dikantongi, apalagi duit.
Tags: Banten Heritage, dialog budaya, harapan, kearigan lokal, korupsi, pandeglang, ramadhan, Rizal Mallarangeng, spidol, tata pamong






















































Belum ada komentar
Tulis komentar