Kebahagiaan : Sebuah Renungan
Beberapa hari yang lalu saya mencoba bertanya pada teman-teman di facebook, apa yang paling anda cari di dunia ini. Ada yang menjawab serius, ada juga yang menjawab secara berkelakar, bahkan ada yang menyatakan bahwa sulit untuk menjawabnya. Namun secara umum terdapat benang merah dari jawaban-jawaban yang saya peroleh, yaitu mencari kebahagiaan.
Terhadap istilah kebahagiaan ini saya pun teringat akan sejumlah teman dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang tengah gundah karena hingga sekarang belum saja memperoleh pekerjaan, hingga disebutnya bahwa jika ia memperoleh pekerjaan ia tentu bahagia. Ada lagi seorang teman yang banting tulang karena ia ingin memperoleh kemewahan. Mobil, rumah yang kukuh, tabungan.. yang disebutnya jika ia memperoleh itu semua tentu ia akan merasa bahagia.
Lain waktu saya memperhatikan tingkah teman-teman birokrat dan pengusaha. Separuh waktu teman birokrat saya itu dihabiskan untuk berkutat dengan proyek kantornya. Bukan saja pelaksanaan fisik pekerjaannya, namun juga dokumen-dokumen pertanggung jawabannya yang menggunung. Parahnya separuh darinya adalah dokumen aspal, asli tapi palsu. Konsentrasi utamanya adalah bukan pada prestasi pekerjaannya, namun pada berapa jumlah “keuntungan” yang akan didapatnya dari proyek yang dikelolanya. Di pihak lain, teman saya seorang pengusaha begitu gencarnya mencari proyek di lembaga pemerintah sehingga ia harus kasak-kusuk mencari cantolan untuk memudahkannya memperoleh proyek. Ia berharap dapat meraih keuntungan yang besar dari proyeknya.
Apapun manifestasinya, tampak di atas betapa kebahagiaaan telah menjadi motor dinamika kehidupan seseorang. Ia bangun pagi, bergerak ke sepenjuru bumi, berinteraksi dengan sesama, bertransaksi, sedemikian sehingga hampir-hampir menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan keluarganya.. bahkan dengan dirinya sendiri.
Satu kali, seorang paman pernah berkelakar ketika ia menanyakan hendak kemana si fulan. Si fulan menjawab, “Mau cari uang dulu (baca: mau kerja).” Paman saya menukas, “Emangnya hilang di mana uang itu?” Kelakar, yang seolah naif namun sebenarnya cerdas itu, kini mengingatkan saya kembali tentang kebahagiaan. Betapa banyaknya energi yang dikeluarkan manusia untuk mencari kebahagiaan, menggelitik pemikiran apakah memang orang telah kehilangan kebahagiaan sehingga begitu repot harus dicari ?
Betapa ternyata kita banyak yang hanyut pada arus pemahaman mengenai bahagia yang menurut saya keliru. Betapa banyak dari kita yang mempersyaratkan kebahagiaan sebagai penukaran sesuatu keadaan yang diinginkannya atau pemenuhan kebutuhannya. “Ia bahagia, kalau… “ “Saya bahagia jika….. “
Apa yang menjadi persyaratan bagi kebahagiaan kebanyakan orang tak lain adalah pemenuhan kebutuhan kebendaan. Mencapai pendidikan formal setinggi mungkin, mencapai kualitas bangunan rumah yang sedemikian, memperoleh pekerjaan yang dalam anggapannya terhormat, memperoleh uang yang banyak, mencapai jabatan yang diidamkan, memperoleh omset dan laba yang besar, mendapatkan pasangan hidup yang cantik… ini tak lain dari urusan-urusan duniawi.
Dalam pemahaman saya, pencarian kebahagaiaan seperti ini jelas hanya akan membuat kita terjebak oleh fatamorgana bahagia. Dari kejauhan seolah kebahagiaan itu tampak dan membuat kita bergerak untuk mencapainya, namun ketika dirasa telah dekat, apa yang dibayangkannya tidak sepenuhnya sesuai dengan gambarannya di waktu awal.
Mengapa? Karena kita tak lebih dari manusia lemah yang dikaruniai nafsu sehingga kebutuhan hidup selalu saja akan ada menggoda. Apakah jika kita memperoleh pasangan yang diidamkan kita akan merasakan kebahagiaan sepanjang hidup? Apakah jika kita meraih gelar akademik yang dianggap prestis maka kita akan merasakan kebahagiaan sepanjang hidup ? Apakah jika kita mencapai kekayaan yang diharapkan lalu kita akan merasa bahagia sepanjang hidup ? Apakah jika kita memperoleh jabatan tinggi yang diidamkannya lalu ia akan merasakan kebahagiaan sepanjang hidupnya ? Jika kita mampu membuka nurani, maka nurani kita akan menjawabnya TIDAK. Kebahagiaan-kebahagiaan seperti itu sifatnya sementara, yang akan segera pupus jika tumbuh kebutuhan yang lain. Inilah fatamorgana bahagia.
Perkenankan saya mengulang pertanyaan saya, apa yang kita paling kita cari dalam hidup? Kita tentu akan mengulang menjawab : kebahagiaan. Dari sini mari kita renungkan, kebahagiaan yang seperti apa ? Jika jawabannya masih bersifat pengejaran keduniawian seperti di atas, coba tanyakan pada nurani, apakah kita rela menghabiskan waktu kita untuk sesuatu yang hanya sesaat kita rasakan? Apakah kita rela dipermain-mainkan oleh fatamorgana ini? Bukankah kita hidup di dunia ini hanya sementara padahal kualitas kehidupan yang kita bangun saat ini akan menentukan kualitas di kehidupan kita kelak ? Mari kita renungkan di relung hati kita yang paling dalam.
BERSAMBUNG….
(CATATAN : Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya masih diberi kesempatan dan dimampukan untuk melanjutkan pembahasan ini. )





Ada satu komentar
defrimardinsyah
Anisfaisalreza,
mohon bantuan untuk isi dan promosikan kuesioner penelitian saya
http://defrimardinsyah.wordpress.com/2010/01/07/survey-online-dapat-hadiah-usb/
http://www.ebankingsurvey.com/limesurvey/index.php?sid=35685&lang=id
terima kasih
Defri
17 Jan 2010
Tulis komentar