Keluarga
Nia tak sengaja menyenggol seseorang. “Maaf ya Mas…” ucap Nia. Orang yang tersenggol itu – Robby- menjawab, “Maafkan saya juga. Saya juga tak melihat anda.”
Perhatikan. Kedua orang itu berlaku sangat sopan. Berpisah pun mereka saling mengucap salam perpisahan. Namun di rumah, ceritanya menjadi lain.
Sesampai di rumah, rupanya telah datang saat makan malam. Anak gadis Nia- Rima - berdiri diam di sampingnya. Mungkin karena capek, Nia setengah menghardiknya, “Awas..! Sana.. ! Jangan menghalangi jalan.” Rima pun pergi, hatinya terluka. Nia tidak menyadari bahwa kata-katanya begitu kasar.
Saat Nia berbaring di tempat tidur, sebuah suara dari nuraninya menegurnya, “Tadi, sewaktu bertemu orang yang asing buatmu, engkau berlaku begitu sopan dan agung. Namun, pada anak gadismu sendiri, engkau malah berlaku kasar. Coba engkau periksa ke dapur. Akan kau temukan bunga yang ia bawakan khusus untukmu. Ia memetiknya sendiri : merah, kuning, dan biru. Ia berdiri diam seperti tadi karena ia tak mau kejutannya diketahui. Tapi kini, air mata penuh mengambang di pelupuk matanya.”
Menyadari itu, Nia langsung merasa dirinya kecil. Air matanya pun mulai menitik. Diam-diam ia bangkit dari tempat tidur dan perlahan berjalan menuju tempat tidur anaknya. “Bangun, Nak.. anak gadis ibu.. bangun,” bisik Nia. “Bunga-bunga ini engkau petik untuk ibu?” Rima tersenyum, “Aku tak sengaja menemukannya di kebun. Aku lalu memetiknya karena bunga-bunga itu cantik seperti ibu. Aku tahu ibu pasti menyukainya, terutama yang biru ini.” ujar Rima.
Nia dilanda keharuan yang amat sangat. Seraya mendekap anaknya Nia terbata-bata berkata, “Nak, maafkan sikap ibu tadi. Tidak seharusnya ibu menghardikmu seperti itu.”
“Tidak apa-apa, Bu. Aku tetap menyayangimu,” jawab Rima. Nia berkata, “Nak, ibu pun menyayangimu, dan ibu suka dengan bunga-bunga ini, terutama yang biru.”
CATATAN:
Sadarkah kita, andai kita esok mati, perusahaan atau atasan dimana kita berada dengan mudahnya akan mengganti kita dengan orang yang baru. Namun keluarga yang kita tinggalkan akan sangat kehilangan selama sisa hidup mereka. Dan berpikir tentang itu, kita lebih sibuk mengurusi pekerjaan dibandingkan terhadap keluarga sendiri… bukankah ini investasi yang tidak bijaksana?





Belum ada komentar
Tulis komentar