Mereka Berhak Bahagia

Dua hari yang lalu aku sempat melontarkan sebuah pertanyaan – mungkin tepatnya sebuah perasaan – pada istriku, “Bu, Dede kira-kira bahagia ngga ya punya orang tua seperti kita?” Yang kumaksudkan Dede adalah Lala, anak perempuan 8 bulanku. Mungkin pertanyaan itu terlalu berat untuk dicerna istriku yang masih muda (24 tahun). Namun, sebuah obrolan mengenai anak membuatku teringat lagi pada pertanyaan itu.

Pembahasan ini selalu saja membuatku merasa kecil. Aku belum memberikan upaya terbaik untuk Lala. Lihat saja hari ini. Pagi hari aku berangkat, padahal baru sebentar aku bercengkrama dengan Lala. Lalu tadi aku pulang dan baru sampai di rumah pukul 21.30. Dan Lala kutemukan telah terlelap di samping ibunya.

Apakah Lala bahagia punya orang tua seperti aku? Pertanyaan ini akhirnya membuat aku terlibat dalam diskusi dengan istriku untuk mengevaluasi semuanya tentang Lala. Sejak awal (baca artikel ini) aku telah disadarkan bahwa Lala, meskipun lahir sebagai anakku, namun aku tak menganggapnya seperti kebanyakan orang tua berpersepsi tentang anak.

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Akan tetapi, aku tidak lantas menganggap anak sebagai anak buah yang lantas mengabdi (laksana robot) padaku sebagai orang tua. Aku tidak memposisikan diri sebagai “penguasa” atas diri mereka. Mereka adalah makhluk otonom yang memiliki rasa, pikir, dan pilihan. Mereka berhak bahagia. Dan karena mereka dilahirkan “melalui jalan” kitalah kita wajib memenuhi hak mereka. Bukan sebaliknya, menuntut anak untuk berbuat yang terbaik DEMI membuat kita bangga atau senang dan menghardiknya atau mencelanya jika berbuat sebaliknya.

Ada satu pengertian yang sering luput dari perhatian kebanyakan orang. Beberapa percobaanku yang dikuatkan dengan jawaban guruku meyakinkanku bahwa ternyata bayi mungil pun mampu merasakan dan mampu mempersepsi lingkungan serta apa-apa yang terjadi di lingkungannya. Tapi coba lihat, berapa banyak orang tua yang masih saja memperlakukan bayi mungil mereka laksana seonggok daging yang tak mengerti apa-apa. Mereka memang mengurusnya, namun tidak dengan ungkapan cinta yang sepenuh rasa.  Percakapan hanya sekedar permainan. Tak ada interaksi yang sejati sebagaimana dua intelejensia dan dua hati yang tengah berkomunikasi.

Mungkin karena dianggap belum mengerti pulalah sehingga tak bisa kita hitung berapa banyak orang tua yang tega meninggalkan bayi mungilnya di rumah bersama pembantu, saudara, atau sanak keluarga. Mereka berdua bekerja seharian. Sibuk dengan dalih mencari nafkah tanpa menyadari bahwa mereka mengurangi “jatah” kasih sayang untuk bayi mereka. Delapan jam sehari kita berpisah dengan anak-anak kita, dan selama itulah kita mengurangi pasokan kasih sayang pada mereka. Maka bayangkan jika angka itu kita akumulasikan selama 3 tahun, masa keemasan mereka.

Atas alasan itulah aku melarang istriku bekerja. Meski ada tekanan yang luar biasa dari pihak keluarga istriku, namun aku tetap “keukeuh”, tidak. Cukup aku yang bekerja, dan istriku berkonsentrasi pada Lala. Lala adalah investasi kami yang paling berharga, lebih dari keberhargaan kebutuhan kami terhadap dunia. Kami rela hidup sederhana asalkan kami dapat membesarkan dan mengasuh Lala dengan baik.

Apakah Lala bahagia punya orang tua seperti kami? Inilah pertanyaan yang kini menjadi peringatan bagi kami untuk terus berupaya sebaik mungkin memenuhi haknya. Aku tak ingin suatu saat Lala berkata, “Coba kalau aku dilahirkan sebagai anak si ini atau si itu, tentu aku tidak susah seperti ini…” Duh… Mampukan kami ya Allah… Mampukan kami mengemban amanahMU ini.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Artikel Terkait :

Ada 2 komentar

  1. indra

    membaca tulisan ini menetes air mataku.kadang betapa aku tidak menghargai orang tuaku menginginkan jadi anak si ini si itu. bisa seperti anak yang lain dengan bangga mengenyam pendidkan, hidup serba terpenuhi. tidak merasa malu akan kegagalan dalam hidup karena aku tidak bisa menjalani hidup seperti anak yg lain. semoga aku bisa jadi orang tua yg bisa dibanggakan anaknya sendiri bila aku punya anak nanti

  2. beberapa kali juga pertanyaan yang sama saya ajukan.. saya cuma takut anak2 itu iri pada orang lain, well, dalam banyak hal, dibandingkan teman2 mereka.. :sad:
    saya sempat merasa gagal jadi ayah dan suami. kok kayaknya saya ngga mampu bikin mereka bahagia.. boro2 bahagia, secure dan cukup, itu aja pun tidak
    :wassat:

    untungnya, saya dibantu seorang istri yang pengertian dan mampu kasih penjelasan buat anak2. saya hanya berharap mereka bisa hidup menerima dan menghadapi hidup ini apa adanya dengan kepala tegak. syukur2 bila suatu saat memang berlebih.
    tapi sebelum itu terjadi, saya ingin menanamkan pesan pada anak2 itu, bahwa syukurilah hidupmu itu.. dalam keadaan seperti ini saja, toh nyatanya masih lebih baik dari (beberapa) orang lainnya.. saya cuma ingin mereka bisa dan mampu berbagi, dalam situasi seburuk apapun.
    semoga :angel:

Tulis komentar

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten