“Nulis Yuk…”
Ketika aku memutuskan bermigrasi – membongkar website statis ke bentuk website dinamis dengan format wordpress blog – kebingungan pun dimulai. Bukan bingung dengan desain, melainkan bingung : apa yang hendak kutulis? Masalahnya, saya tidak punya spesialisasi di bidang tertentu. Tentang ekonomi, sudah banyak blog para pakar ekonomi. Tentang teknologi informasi juga sama. Semua bidang telah “diblogkan” oleh para ahlinya masing-masing. Kalau saya maksa nulis tentang itu, bukannya malah malu-maluin? Lha, lalu gimana?
Dalam perenungan akhirnya aku kembali bertanya pada diri. Untuk apa bikin blog?
Pertanyaan ini lalu mulai mengarahkanku pada sebuah memori. Aku teringat masa-masa SMA ketika aku tengah semangat-semangatnya berlatih menulis. Essay, resensi buku, puisi, dan korespondensi menjadi dunia yang mengasyikkan. Terlepas dari kualitasnya, aku terus saja menulis. Hingga saat kuliah. Puncak lamunanku akhirnya bermuara pada pertanyaan : masih adakah dokumentasi tulisan-tulisan itu sekarang? Tidak ada satu pun!! Menyedihkan.
Itu dia. Dokumentasi. Bercermin dari kesalahan di masa lalu akhirnya membulatkan niatku untuk menulis dan menyimpannya baik-baik dalam bentuk digital. Internet. Blog. Disanalah tempatku menuangkan apa pun : lintasan-lintasan perjalanan hidup, gagasan, sebaris kalimat bijak, kabar, dan lainnya. Aku tidak perlu kuatir lagi pada telah banyaknya pembahasan dalam berbagai bidang. Duniaku jelas memiliki perbedaan.
Bagiku kini, menulis menjadi sebuah investasi jangka panjang. Dengan asumsi bahwa kita diberi kesempatan hidup lebih lama, maka bayangkan 20 tahun dari sekarang : tulisan-tulisan kita masih terorganisir dengan baik, gagasan-gagasan dan pengalaman hidup kita mungkin mendatangkan manfaat bagi mereka yang membacanya, anak-anak dapat dengan mudah menemukan jejak kita ini jika kelak mereka membacanya, dan anak-anak dapat bercermin darinya juga memahami serta mengenang kita dengan lebih banyak kenangan.
Menulis itu tidak mudah, tapi juga mudah. Ini masih terus kualami hingga hari ini. Namun demikian, jika tidak kita paksa mulai, kapan lagi?
Tags: arsip, Blog, Gagasan, informasi, ingatan, internet, kompetisi blog, Korespondensi, Manfaat, Menulis, nulis yuk, Pengalaman, pikiran, Teknologi, website, Wordpress






















































Ada 2 komentar
neni
waktu sekolah dulu saya hobi nulis cerpen mang.. nulisnya dibuku2 sekolah. udah lamaaaa baru saya buka2 lagi,,dan adaaaawwww saya menyadari betapa noraknya saya waktu itu haha
31 Mar 2009
Rochaendi
Kang sy senang menulis, apalagi sy punya hoby yg jarang orang mau menekuninya. Nah masalahnya sy ga punya blog kang, bantuin dong. Nuhun sateuacana. Ditunggu bimbingannya.
31 Mar 2009
Tulis komentar