Politik
Hingga saat ini, aku selaku merasa bahwa aku sangat bodoh dalam pengetahuan politik. Tapi jika ingat hal itu, aku selalu bilang “EGP”. Masa bodoh.Bahwa ayahku pada era 90-an sangat berpengaruh di DPD Golkar Pandeglang, plus kedekatanku dengan ayah, itu tidak membuat anaknya serta merta paham dunianya. Sebaliknya, aku sama sekali tidak tertarik. Aku sendiri tidak mengerti apa sebab sikapku ini. Saat kucoba menelusuri sejak kapan rasa ini ada pun aku menemu kebuntuan. Dan lagi-lagi, pada titik itu aku menggumamkan ujaran sakti : “EGP”.
Ini kali aku teringat lagi urusan ini. Tapi sebelum “EGP” datang, ada baiknya aku menuliskan lesatan-lesatan pikiran yang tadi muncul.
Semestinya pengertian politik adalah seperti yang digambarkan dalam Wikipedia. Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). Dalam pengertian lainnya, politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara.
Cantik bukan? Lalu dimana masalahnya? Manusia, ini penyakitnya. Politik yang bermakna cantik itu laksana es krim enak yang ketika berada di alam pelaksanaannya laksana jatuh ke kubangan kotoran.
Politik lebih menonjol sebagai kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Lihat saja banner-banner foto di sepanjang jalan, iklan-iklan di televisi, jargon-jargon indah, kegiatan bhakti sosial para caleg, cakada….
Apabila musim kampanye dan pemilu sudah berlalu maka politik beralih makna menjadi segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Lihat saja itu kegiatan para anggota dewan yang terhormat, rapat-rapat para eksekutif, polemik di koran, debat di televisi…
Mengingat kenyataannya itu, aku sering berpikir bahwa pengertian politik ternyata tak lebih dari cara orang untuk dapat berdiri tegak di atas kepala orang lain. How come? Well, pada tataran peraihan kekuasaan, maka seorang politikus akan berjuang sedemikian rupa dengan bantuan material apapun untuk merayu sebanyak mungkin orang untuk dapat sependapat dengan gagasannya mengenai kekuasaan. Tak sadar bahwa kepala mereka tak lebih dari pijakan sang politikus untuk berdiri tegak dalam perlombaan panjat pinang merebut kekuasaan.
Lalu manakala orang itu telah meraih kekuasaan, maka dengan kekuasaannya ia semakin mendapatkan fasilitas untuk menginjak lebih banyak kepala lagi untuk mempertahankan kekuasaannya.
Tendensius? Mungkin ya. Tapi itulah kenyataannya saat ini. Euforia pasca Suharto dan anomali desentralisasi menyebabkan jabatan pemimpin (baik eksekutif maupun legislatif) kini malah menjadi sesuatu yang didamba-damba oleh sebagian orang. Tentang kapabilitas, kompetensi, dan nasib rakyat? Go to hell…
Tags: eksekutif, kekuasaan, legislatif, manusia, politik
Kata kunci pencarian:
- pengertian politik






















































Belum ada komentar
Tulis komentar