Prajurit Medis, Dimanakah Engkau?

Tujuan perjalananku hari ini adalah SMA Negeri 1 Banjarsari, sekitar 2 jam perjalanan dari Kabupaten Lebak. Janji bertemu dengan sang Kepala Sekolah, Pak Iwan Sumantri, sudah diatur oleh kawanku, Syamsul Bahri (ia akrab dipanggil Ucu), seorang personil Banten Heritage dari Divisi Bahasa dan Sastra. Undangan diskusi ini muncul ketika aku dan kawan-kawan Banten Heritage mewacanakan perlunya perkuatan pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam kaitan dengan pembelajaran berbasis riset (Research Based Learning) di sekolah yang terhitung berada di pelosok Pandeglang & Lebak.

Bukan berarti aku seorang pakar TIK atau pun pendidikan. Tidak. Hanya saja jumlah pakar TIK atau pendidikan di Indonesia rasanya belum menutup seluruh luas wilayah republik ini. Lantas aku pun membayangkan sebuah analogi : jika dalam perang ada prajurit yang terluka, apakah aku yang masih segar bugar lantas diam saja memikirkan diri sendiri dan hanya berharap akan ada seorang prajurit medis yang datang? Setidaknya aku dapat membubuhkan bubuk sulfa atau plasma dan membebatnya agar harapan hidupnya tinggi dan dapat berperang lagi.

Pendidikan di Indonesia tampak padaku laksana Hamas yang habis-habisan digempur oleh Operation Cast Lead-nya Israel. Luluh lantak. Bedanya adalah : jika Hamas terluka dan merasakan pedihnya luka itu, dalam perang pendidikan korban-korbannya justru tidak menyadari bahwa ia telah terluka di banyak tempat. Markas hancur, amunisi tandas, dan jalur-jalur pelarian semua telah diblokade. Oleh apa? Oleh kanker ketergantungan kita pada dunia Barat. Dalam segala hal. Kita kini tak lebih laksana kuda andong dimana kusirnya adalah Barat. Masih syukur jika kita masih menyadari ini, sebab ternyata  target berikutnya adalah kehancuran kesadaran itu sendiri.

Alih-alih menyuruh berpikir merdeka, sistem pendidikan kini malah membuat siswa sangat sibuk sehingga malah lupa untuk berpikir tentang eksistensinya. Saat menghadapi ujian, jawaban yang siswa berikan dinilai berdasarkan seberapa cocok jawabannya dengan indoktrinasi yang ia dapat serap selama sekolah. Kebanyakan ujian alih-alih untuk  mengukur seberapa kuat ide-ide yang telah disampaikan tumbuh berkembang menjadi benih-benih karsa dan karya namun malah cenderung pada pengukuran daya ingat siswa pada textbook. Pendidikan seperti ini tentu saja tidak pernah  dapat mencipta karakter, kebijaksanaan, dan pemahaman. Tapi mungkin itulah tujuannya, sebab jika anda dapat mengontrol apa yang diajarkan di sekolah (di seluruh negeri – dengan perangkat kurikulum ataupun kebijakan bongkar pasang lainnya) dan pada saat yang sama jebakan “realitas hidup” ditebar, maka anda dapat mengendalikan seluruh sifat dasar masyarakat dan dengan mudah menyetirnya ke arah mana pun yang anda suka. “We are actively discouraged from thinking constructively and questioningly, and once an individual has accepted the numb acquiescence so encouraged, an insidiously vicious circle has been successfully promoted. Another rather convenient result of such a situation is that people, who don’t think constructively, don’t even realise it.” ( Michael Timothy)

Dasar pikir lainnya adalah degradasi kepedulian pada sesama yang kini semakin menggila. Disadari atau tidak. Jebakan realitas hidup mendorong orang untuk menganut materialisme yang kemudian memotorinya untuk lebih mementingkan diri sendiri. Individualistis. Pun terhadap aspek keilmuan, banyak orang telah lupa pada ujar-ujar bahwa ilmu pun harus di zakati. Dengan pengabdian terhadap sesama.

Sedikit kesadaran inilah yang mendorong aku dan kawan-kawan untuk bergerak semampu kami. Aku.. kami.. memang bukanlah prajurit medis yang tepat, tetapi meskipun dengan resiko tertembak, bukankah aku masih dapat berupaya membebat luka saudara-saudaraku agar mereka setidaknya dapat bangkit kembali memerangi penjajahan dirinya?

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Artikel Terkait :

Ada 3 komentar

  1. keprok_euy

    Memiliki otak yang baik saja tidak cukup. Lebih penting dari itu adalah bagaimana menggunakannya dengan tujuan baik. – Rene Descartes, filsuf Prancis, 1637

  2. Setuju mang anyunk….memang ternyata pola pendidikan di kita memang agak unik, mem-push yang namanya kemampuan akademik yang dipercaya mengangkat hidupnya nanti,,padahal belum tentu mengangkat kepribadian, perilaku dan etika…padahal itu kelihatan lebih penting dalam membentuk manusia indonesia seutuhnya…(nuhun tos linggih ka blog simkuring…he he)

  3. Terima kasih Kang telah berkunjung ke SMAN 1 Banjarsari yang notabene tempat saya sekolah dulu. Mudah-mudahan dengan gambaran mengenai pendidikan yang akang ketahui dapat menggugah kesadaran kita semua bahwa persoalan SDM disana begitu kompleks.

    Sampaikan salam saya untuk bpk. Iwan Sumantri (dulu waktu saya masih sekolah beliau adalah Wakasek Bidang Kurikulum dan mengajar Biologi).

    Jakarta, 5 Maret 2009

    Salam,
    Rustandi (Alumni 1996, SMAN 1 Banjarsari, Lebak, Banten)

Tulis komentar

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten