Red Cliff
Iseng-iseng, dalam perjalanan pulang dari kantor aku mampir ke Ultradisc. Kebetulan pengunjung sore itu cuma aku, jadi aku “rineh” memilih-milih film yang mungkin menarik untuk ditonton. Tapi ternyata tidak lama. Sesaat setelah aku melirik sebuah judul, : Red Cliff – sebuah film Mandarin, entah kenapa aku langsung saja tertarik. Ternyata aku tidak salah, nama sutradara John Woo yang tertera di cover filmnya cukup menjadi alasan ketertarikan itu.

Red Cliff
Film ini berlatar belakang tahun 208 SM. Saat itu adalah hari-hari terakhir pemerintahan Dinasti Han. Perdana Menteri licik Cao Cao (Zhang Fengyi) meyakinkan Raja Han yang lemah bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh daratan Cina yaitu dengan menyatakan perang terhadap kerajaan-kerajaan Xu di bagian barat dan East Wu di bagian selatan. Maka di mulailah kampanye militer besar-besaran, dipimpin oleh sang Perdana Menteri. Sejumlah peperangan terjadi, baik di laut maupun daratan, dan akhirnya memuncak di Karang Merah (Red Cliff). Selama perang berlangsung, dua ribu kapal dibakar, dan sejarah negeri Cina berubah selamanya.
Awalnya alur film ini bagiku terasa lambat. Trik-trik kungfu yang biasanya menonjol dalam film Mandarin hampir dikatakan tidak ada. Visual kolosalitas pun tidak sebanyak jika dibandingkan dengan Mummy (Brendan Fraser & Rachel Weisz). Namun demikian, aku merasakan ada sesuatu kekuatan pada film ini yang tetap membuatku setia memelototinya. Tipe-tipenya seperti Mongol (Tadanobu Asono/Khulan Chuluun), kuat pada pengkarakteran tokoh-tokohnya.
Kebingunganku pada alur yang lambat ini akhirnya terjawab sudah manakala di akhir cerita, film ini ternyata bersambung, yang padahal sekuelnya belum ada. Huh… kesel juga dibuat ngegantung kayak gini. Untunglah aku bisa mengalihkan kekesalan ini dengan mengingat sebuah adegan manis di film itu.
Dalam adegan itu dikisahkan Xiao Qiao (Tonny Leung) menghentikan latihan pasukannya saat mendengar alunanĀ nada sebuah seruling. Ia pun pergi ke arah suara itu diikuti sorot mata keheranan pasukannya. Xiao Qiao yang rupanya seorang seorang pecinta musik merasakan ada nada sumbang pada lantunan nada yang ditiup seorang anak petani itu. Tak banyak bicara, ia meminta seruling itu dari si anak dan mengeluarkan pedang pendeknya.
Seketika ayah sang anak dicekam ketakutan, namun kemudian ia lega tatkala dilihatnya pedang itu dipakai Xiao Qiao untuk memperbaiki lubang pada seruling anaknya. Akhirnya si petani berani berbicara dan mengadukan bahwa kerbaunya telah dicuri oleh prajurit anak buah Xiao Qiao.
Seluruh prajurit pun menjadi geram dan mendesak diselidikinya kasus itu. Tapi, alih-alih menghukum anak buahnya, Xiao Qiao menyuruh tangan kanannya untuk meminta maaf pada petani itu dan mengganti kerugiannya dengan seekor kerbau. Dikatakannya : “Maafkan aku, ini adalah kesalahanku yang gagal membina pasukanku…”. Di pihak lain, Xiao Qiao langsung meminta tambahan suplai logistik dari bendaharanya karena dipikirnya bahwa perbuatan prajuritnya ini lebih didorong oleh rasa lapar akibat kurangnya jatah makanan untuk mereka.
Terlepas dari kejadian faktual adegan itu, aku senang menontonnya… karena, seperti itulah semestinya seorang pemimpin : tegas dan adil sebagai panglima, namun juga legawa dan berperasaan halusĀ yang menjadi modalnya untuk mengayomi rakyat.
Aku pun lantas teringat kisah-kisah Islami pada masa Khalifah Umar bin Khattab… dan berutopia : andai pemimpin-pemimpin di Banten seperti mereka, motto Banten Iman dan Takwa tentu tak akan jauh panggang dari api.
Tags: Banten, Brendan Fraser, Dinasti Han, Film, mengayomi rakyat, Mongol, motto Banten, pemimpin Banten, petani, Rachel Weisz, Red Cliff, seruling, the Mummy, Tonny Leung, Ultradisc, Umar bin Khattab, Xiao Qiao






















































Belum ada komentar
Tulis komentar