Refleksi Syukur dalam Pengasuhan Anak
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS 4 : 9)
Kudedikasikan tulisan ini teriring doa untuk seluruh anak Negeri
Tiga hari penuh berada di rumah membuatku intens berinteraksi dengan bayi mungilku, Lala. Barangkali, sakitku ini memang cara Allah untuk membuatku punya waktu yang sangat luang untuk menimangnya. Barangkali ini pula saat aku leluasa merenungkan kembali makna kehadirannya di kehidupanku.
Tampaknya kehadiranku 3 hari ini pun membuatnya senang. Tak seperti hari-hari biasa di mana Lala selalu saja memalingkan wajahnya saat aku berpamitan ke kantor, kali ini wajah cantiknya berseri-seri seakan tahu bahwa ia dapat bermain lama denganku. Aku tidak mengada-ada. Aku tidak menilainya sebagai bayi lemah yang tak mengerti apapun bahkan terhadap ocehan manusia yang berada sekelilingnya. Aku yakin, di tingkat yang sederhana, setiap bayi dapat memahami lingkungannya. Dan ketika ia mulai mengerti tentang sosok ayah ibunya, ia pun mencurahkan perhatian pada mereka.
Sejak awal kelahiran Lala aku mencoba memahami arti kehadirannya bagi diriku. Entah kenapa sejak awal pula aku selalu “diingatkan” bahwa Lala bukanlah milikku. Perceptual set ini semakin terngiang manakala ku teringat tentang syair Kahlil Gibran :
“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh, bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi.”
Titel “titipan Tuhan” pada seorang anak membuatku sempat menitikkan air mata manakala teringat akan diriku. Apakah aku dapat mengemban amanah dari Sang Pencipta untuk membesarkannya, mencukupi kebutuhannya, mendidiknya sehingga menjadi generasi berikutnya yang tangguh…? Kekuatiran inilah yang membuatku dan istriku memperlakukan Lala seperti menjaga telur.
Bersyukur. Ternyata inilah kunci terlepasnya kami dari perasaan gundah itu. Benar bahwa anak adalah titipan Tuhan, tapi aku tidak selayaknya menerimanya sebagai beban. Bukankah dibalik “penitipan” itu terkandung pengertian bahwa Sang Pencipta menaruh kepercayaan padaku? Bukankah ini sesuatu yang patut kusyukuri jika mengingat banyak pasangan yang belum dikaruniai putra/putri? Bukankah keluasan rizqiNya dan kemahabijakanNya tak akan meluputkan Lala dari perhatianNya? Sadar akan ini aku lalu segera memohon ampun atas khilaf dan lemahku. Beban itu kini telah berubah menjadi motivasi bagiku untuk berbuat lebih baik dalam kerangka perwujudan syukurku padaNya.
Lala adalah buah hatiku yang kini menjadi obat mujarab atas lelahnya aku sepulang kerja, setelah menempuh perjalanan 100 km pulang-pergi dengan vespa bututku. Keceriaannya melihatku datang membuatku selalu saja merasa bersalah jika aku terlambat tiba di rumah dan menemukan Lala telah tertidur.
Tiga hari penuh berada di rumah membuatku sadar bahwa anak membutuhkan ekstra perhatian dari kita. Kecukupan materi saja tidak menjadi bekal untuk membesarkannya. Lebih dari itu, curahan kasih sayang dalam bentuk penyisihan waktu yang layak lebih menjadi harapannya.Tapi coba kita lihat, berapa banyak orang tua yang dua-duanya sibuk bekerja sementara bayi mungilnya berada dalam pengasuhan neneknya atau pembantunya? Berapa banyak orang tua yang menuntut anaknya “mengerti” atas kesibukan mereka padahal justru merekalah yang harus “mengerti” pada kebutuhan kasih sayang anak?
Persoalan dilematis ini selalu saja menjadi justifikasi kegagalan banyak orang tua terhadap kualitas pengasuhan anaknya. Padahal jika disimak, persoalan pengasuhan anak kini semakin mendapat banyak tantangan. Tayangan televisi yang semakin merusak moral, lingkungan sosial yang telah berubah, tekanan “target” dari sekolah… belum lagi penyakit-penyakit laten yang membahayakan jiwa anak. Coba simak data berikut yang aku kutip dari situs Komisi Perlindungan Anak Indoneisa yang memberikan gambaran bagaimana masih buramnya dunia anak di Indonesia.
Berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), kondisi kesehatan dan gizi adalah; (a). angka kematian bayi, tahun 2002/2003 sebesar 35/1000 atau terdapat 35 bayi yang meninggal di antara 1000 bayi yang dilahirkan, atau berarti setiap hari ada 430 kematian bayi di Indonesia; (b). kematian balita, sebesar 46/1000 atau setiap hari ada 566 kematian balita; (c). status gizi, pada tahun 2005 jumlah anak kurang gizi sekitar 5 juta dan anak gizi buruk sekitar 1,5 juta, dan 150.000 anak menderita gizi buruk tingkat berat (marasmus-kwasiorkor). Jumlah anak yang meninggal akibat gizi buruk tersebut mencapai 286 anak; (d). air susu ibu (ASI) eksklusif, yakni ibu yang menyusui bayi di atas 4 bulan mengalami penurunan dari 65,1 % pada Susenas 1998 menjadi 49,2% pada Susenas 2001.
Dalam sektor pendidikan; (a).angka partisipasi sekolah, tahun 2004 untuk anak usia 13-15 tahun sebesar 83,4 % sedangkan untuk anak usia 16-18 tahun sebesar 53,4 %; (b). angka mengulang kelas, data tahun 2004/2005 menunjukkan persentase sebesar 5,4 % untuk anak usia SD dan 0,44 % untuk SMP/Mts; (c). angka putus sekolah, tahun 2005/2006 menunjukkan sebesar 2,96 % untuk SD/MI dan 1,6 % untuk SMP/MTs; (d). angka melanjutkan sekolah, tahun 2005/2006 mencatat hanya 72,5 % anak yang melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP/MTs.
Aspek perlindungan anak lebih memprihatinkan; (a). anak tanpa akte kelahiran, berdasarkan hasil Susenas 2001 angkanya mencapai 60 % atau anak yang sudah memiliki akte kelahiran baru mencapai 40%; (b). anak korban kekerasan dan perlakuan salah, menurut laporan kepolisian pada tahun 2002 tercatat 239 kasus dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 326 kasus; (c). anak jalanan, diperkirakan secara nasional mencapai 60.000-75.000 dan menurut Departemen Sosial 60 % di antaranya putus sekolah; (d) anak yang berkonflik dengan hukum, setiap tahun terdapat lebih dari 4.000 perkara pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 16 tahun. Data lainnya menyebutkan hingga tahun 2002 terdapat 3.722 anak yang menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan.
Lebih mengerikan, data di Badan Narkotika Nasional menyebutkan anak korban penyalahgunaan narkoba, 70 % dari 4 juta pengguna narkoba adalah anak berusia 4-20 tahun atau sekitar 4 % dari seluruh pelajar yang ada. Sedangkan kasus AIDS/HIV, hingga Desember 2005 terdapat 4.243 kasus HIV, dan 5.320 kasus AIDS. Dari jumlah tersebut 438 kasus terjadi pada anak usia 0-19 tahun. Sementara korban kerja paksa, trafficking, pelacuran anak, dan anak-anak di pengungsian belum tersedia data yang memadai. Tetapi diyakini, jumlahnya mencapai ribuan anak.
Tentang narkoba ini, coba simak pula gambaran berikut :
Peredaran narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) semakin menggila dan membuat bulu kuduk merinding. Jumlah pemakai barang laknat itu pun makin bertambah. Polisi mencatat, hingga 2008 pengguna narkoba sudah mencapai 3,2 juta orang. Padahal, perkiraan Direktorat Narkotika dan Kejahatan Terorganisir Mabes Polri, jumlah pengguna narkoba baru mencapai sekitar 500.000 pada 2006. Artinya, hanya dalam jangka waktu dua tahun, pengguna narkoba naik 533%. Tak pelak, tingkat kejahatan narkoba juga cenderung naik setiap tahun. Pada 2006 polisi berhasil menangani 17.355 kasus kejahatan narkoba. Adapun jumlah tersangka mencapai 31.635 orang. Jumlah kasus kejahatan pada 2007 kemudian melejit, menjadi sebanyak 22.630 kasus, dengan jumlah tersangka 36.169 orang. Polisi juga berhasil menyita barang bukti berupa ganja sebanyak 28,9 ton, heroin 12,8 kg, kokain 240 gram, hasis 266 gram, ekstasi 255.928 tablet, shabu-shabu 187.777 kg, dan obat daftar G 2 juta tablet. Untuk tahun ini, kejahatan narkoba kemungkinan juga akan meningkat. Sebab, hanya pada periode Januari-Maret 2008 sudah mencapai 7.378 kasus atau rata-rata 2.459 kasus. Gampangnya, setahun bisa mencapai 29.508 kasus (Lintas Berita).
Kesemua itu kini menambah tekadku untuk membenahi pola pengasuhanku terhadap Lala dengan lebih banyak belajar dan dengan lebih mampu bersabar. Demikian pula istriku. Pengertiannya akan persoalan ini membuatnya rela untuk tidak minta ijin lagi untuk bekerja. Dikatakannya padaku bahwa waktunya akan dicurahkan lebih banyak untuk Lala. Ia pun telah sampai pada pemahaman bahwa kerepotan mengasuh Lala adalah wujud dari rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Semoga BELIAU memampukan kami tuk mengemban amanahNya. Semoga juga semakin banyak yang terbetik nuraninya untuk merenungi perannya sebagai orang tua. Semoga dengan ledakan kesadaran dari para orang tua, generasi berikut Republik ini tidak lagi menjadi buih lautan. Banyak, namun tak berdaya dipermainkan ombak. Allahumma aamin…
Tags: amanah, anak, anak Indonesia, belajar, bersyukur, harapan, kejahatan anak, narkoba, orang tua, pengasuhan, sabar, syukur, televisi
Kata kunci pencarian:
- rasa syukur atas kelahiran putra






















































Ada 2 komentar
cantigi™
IBSN link members updated. mohon maaf baru online. makasih & selamat bergabung ya..
4 Feb 2009
nabilla
semua manusia wajib mensyukuri apa yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Apalagi jika kita memiliki seorang anak, hal tersebut merupakan karunia yang paling besar yang dititipkan Allah kepada para orang tua, maka refleksi syukur akan sangat diperlukan disini.
21 Jun 2010
Tulis komentar