Second Opinion

Semestinya aku menulis naskah ini kemarin, tapi karena sistem notebook-ku crash dan meminta instal ulang OS-nya.. niat menulis terpaksa ditunda. Aku bersyukur dibekali sedikit pengetahuan mengenai komputer, jadi notebook-ku dapat kuperbaiki sendiri tanpa perlu menginap di bengkel. Jadi, malam ini pun aku bisa menulis lagi….

Hari selasa adalah jadwal terakhir kontrol kesehatan kehamilan istriku. Ya, dalam waktu dekat mudah-mudahan Allah memberi kepercayaan padaku atas seorang anak. Harapan ini aku pelihara dengan kepasrahan dan prasangka yang baik padaNya disamping perhatian khusus yang kucurahkan pada kesehatan kehamilan istriku. Namun, siang itu istriku memberi kabar yang membuatku agak deg-degan. Dokter yang memeriksanya menjelaskan bahwa pengapuran pada plasenta di rahimnya telah banyak. Dokter bilang bahwa itu tandanya bahwa kehamilan telah sangat matang. Mau tunggu apa lagi? Tentang masalah mules yang belum dirasakan istriku, dokter itu memberikan alternatif induksi.

Istriku agak panik dan tidak dapat memberikan keputusan. Dengan bijak ia menjawab pada dokter  bahwa ia akan mengkonsultasikannya dulu denganku. Akibatnya, malam itu istriku sesenggukan menangis mengungkapkan semua kekuatirannya. Tentang bagaimana sebaiknya, tentang sakitnya melahirkan, ditambah karena ia ditakut-takuti saudaranya tentang sakitnya diinduksi. Selain itu, aku menduga ia kuatir karena adanya tekanan dari keluarganya.

Memang, selama ini ada perbedaan yang sangat mendasar antara pemahamanku dengan pemahaman keluarganya. Aku dibesarkan di lingkungan yang lebih mengutamakan rasio dan menghindari gagasan-gagasan mistis tradisional. Terlebih setelah pembelajaran tasauf yang kuperoleh, guruku yang bijak telah memberiku banyak pencerahan mengenai itu. Tapi tidak dengan keluarga istriku. Mereka teguh memegang adat kebiasaan tradisional tanpa mengerti dasar, duduk perkara, dan makna simbol filosofis-nya. Jadi, ada kemungkinan keluarganya mengkritik keputusanku untuk mengabaikan semua anjuran mengenai memakai jimat ini itu selama hamil, di-sangsurkeun perutnya, dan pantangan ini itu. Aku membaca kekuatiran yang tak terucapkan itu dari istriku.

Kucoba menenangkannya dengan membelai rambutnya. Kuucapkan kembali wejangan-wejangan dari guruku. Tentang kepasrahan, tentang keyakinan akan pertolongan Allah, tentang mulianya tugas seorang ibu, dan seterusnya. Tapi semuanya tetap mengarah pada keteguhanku untuk tetap mengabaikan gagasan mistis maupun gagasan di-sangsurkeun. 

Setelah tangisannya mereda, aku ceritakan tentang informasi pengapuran yang kuperoleh dari internet dan Bidan Wiwit yang kutemui sore sebelum aku pulang. Kubilang bahwa Pengapuran pada ari-ari merupakan hal yang normal saja. Dalam istilah kedokteran dikenal sebagai perubahan derajat maturasi plasenta. Sebetulnya istilah tersebut kurang tepat karena tidak ada kapur yang terbentuk pada plasenta tersebut. Warna putih yang tampak pada pemeriksaan USG menunjukkan adanya perubahan degeneratif jaringan. Ada empat derajat maturasi plasenta, yaitu derajat 0, 1, 2, dan 3. Semakin banyak dan luas bercak putih yang terjadi, semakin tinggi derajat maturasinya, dan semakin banyak pula jaringan plasenta yang rusak. Pada kehamilan 30 minggu dapat saja terjadi derajat maturasi plasenta 1 atau 2. Keadaan tersebut bukan abnormal. Bila ditemukan derajat maturasi 3, maka perlu pemeriksaan lainnya untuk mencari penyebabnya, misalnya berapa indeks cairan ketuban (normalnya 10-25 cm), apakah berat janin sesuai usia kehamilan (30 minggu, kira-kira 1.500-1.700 gram).

Saat kutanyakan pada istriku sudah pada grade berapa pengapurannya, ia menjawab bahwa dokter tidak mengatakan grade berapa persisnya. Inilah yang membuatku tak dapat menentukan keputusan, tapi disisi lain aku kuatir, karena perubahan derajat maturasi plasenta berkaitan dengan aliran darah dari ibu dan kondisi dinding pembuluh darah plasenta. Derajat pengapuran pada tingkat tertinggi jelas berarti bahwa kondisi plasenta sudah rusak dan menyebabkan terganggunya pasokan oksigen dan makanan untuk bayi.

Second opinion. Inilah yang kami butuhkan. Irma (kakakku) dan Bidan Wiwitpun menyarankan demikian. Karena itulah lalu kubilang pada istriku agar ia ikut denganku ke Pandeglang esok. Selain karena aku ada jadwal mengajar pada Rabu sore, di sana ada dr. Ferry Achmad F. M., SpOG, yang menurut Bidan Wiwit dapat diandalkan sebagai pemberi second opinion.

Esoknya, setelah selesai mengajar, aku pun mengantar istriku ke Klinik Akbar Farma, tempat dr. Ferry Achmad F. M., SpOG itu berpraktek. Setelah 1 jam lebih mengantri, akhirnya kami mendapatkan giliran pemeriksaan. Aku banyak bertanya pada dokter Ferry, terutama tentang informasi derajat pengapuran, konsekuensi-konsekuensinya, usia kehamilan, kesehatan bayi, penjelasan mengenai gambar di monitor USG, segala sesuatu mengenai induksi, dan sejumlah pertanyaan lainnya. Syukurlah.. dokter Ferry dengan sabar menjawab setiap pertanyaanku dengan jelas. Ia pun merekomendasikan untuk tidak terburu-buru memutuskan untuk melakukan induksi karena  air ketuban masih cukup, kondisi bayi sangat sehat dan aktif, dan terutama karena usia kehamilan masih ada pada hitungan 36-37 minggu sehingga masih ada waktu 1 minggu lagi hingga hitungan kehamilan yang ideal (9 bulan 10 hari). Namun satu hal ia tuturkan bahwa jika seminggu lagi belum ada pembukaan, baru harus dilakukan induksi.

Kesimpulan dari dr. Ferry membuatku lega. Alhamdulillah… Ini pengalaman yang berharga. Menghadapi situasi masalah dengan informasi minim maka kunci yang harus dipegang erat adalah TIDAK PANIK, jangan membuat keputusan terburu-buru tanpa pertimbangan LOGIS (hal penting : jika kita memang tidak punya ilmunya, jangan sok tahu dan menebak-nebak), segera cari informasi sebanyak mungkin dari orang-orang yang berkompeten, dan kalkulasi ulang semuanya. Aku beryukur karena aku dididik untuk begitu…  

Tags: , , , ,

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Kata kunci pencarian:

  • plasenta pengapuran

Artikel Terkait :

Belum ada komentar

Tulis komentar

Kompetisi Blogger Banten
Kompetisi Blog Banten