Simpati dan Ketulusan
Seorang anak lelaki mendapat tugas dari sekolah untuk menjual majalah. Ia berjalan ke sebuah rumah yang jarang dikunjungi. Rumah itu sangat tua dan reyot. Pemiliknya sangat jarang keluar, kalau pun keluar ia tidak akan menyapa siapa pun yang ada disitu kecuali memandang dengan sorot mata yang tajam.
Orang tuanya sering berpesan agar ia menjauhi rumah itu, sama seperti yang dilakukan para orang tua lain pada anak-anaknya. Meski pun bocah itu takut pada si pemilik rumah, ia lebih kuatir pada jumlah penjualannya yang belum memenuhi yang dipersyaratkan sekolahnya.
Anak itu mengetuk pintu dan menunggu dengan keringat dingin karena takut pada si pemilik rumah. Ia menunggu beberapa lama. Baru saja anak itu hendak pergi, pintu rumah itu perlahan terbuka. “Mau apa?” lelaki tua itu berkata.
“Mmm, Pak.. saya.. mmm menjual majalah ini dan… mmm saya menawarkan barangkali bapak mau membelinya satu.” Lelaki tua itu diam saja dan hanya menatap anak itu. Si anak dapat melihat ke dalam rumah lelaki itu dan pandangannya terhenti pada sebuah patung anjing di atas rak perapian. “Bapak mengoleksi patung anjing?” tanya anak kecil itu. “Ya, aku punya banyak benda koleksi di dalam. Mereka adalah keluargaku, hanya merekalah yang kumiliki.”
Anak itu lalu bersimpati pada pak tua itu karena tampaknya ia sangat kesepian. “Begini, aku punya sebuah majalah yang dapat dikoleksi, sepertinya cocok buat bapak.. Dan karena bapak suka sekali anjing, saya juga punya sesuatu yang berkenaan dengan anjing.” Pak tua itu hampir saja menutup pintunya dan berkata, “Tidak nak, aku tidak memerlukan majalah apa pun.. sampai jumpa.”
Anak itu sedih karena tidak dapat mencapai target penjualannya. Ia juga sedih melihat Pak Tua yang kesepian itu sendirian di sebuah rumah yang besar. Anak itu pulang dan tiba-tiba terlintas sesuatu di kepalanya. Ia punya sebuah patung anjing kecil yang ia peroleh dari bibinya tahun lalu. Patung itu tidak begitu berarti buatnya karena ia punya anjing sungguhan. Anak itu lalu pergi lagi menuju rumah Pak Tua itu sambil membawa patung anjing kecil miliknya. Ia mengetuk pintu itu lagi dan kali ini lelaki tua itu segera membuka pintunya. “Nak, bukannya sudah kubilang bahwa aku tak memerlukan majalah?”
“Saya tahu Pak, aku cuma ingin memberimu sebuah hadiah.” Anak itu lalu menyerahkan patung kecilnya dan wajah Pak Tua itu berseri. “Ini seekor Golden Retriever, aku punya satu di rumah, nah yang ini untuk Bapak.” Pak Tua itu tercenung. Tak seorang pun yang pernah memberinya hadiah seperti itu dan bersikap manis padanya. “Nak, engkau memiliki kebesaran hati, kenapa engkau melakukan ini?” Anak itu tersenyum dan berkata polos, “Karena Bapak suka pada anjing.”
Sejak hari itu, Pak Tua mau keluar rumah dan mengenal orang-orang. Ia dan anak itu bersahabat, bahkan setiap minggu anak itu membawa anjingnya bermain ke rumah Pak Tua itu.
Simpati dan Ketulusan mengubah kehidupan mereka selamanya.






















































Belum ada komentar
Tulis komentar