Tentang Kami

Dilahirkan di sebuah keluarga yang lumayan besar, Mang Anyunk adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama Endang Darjah, berasal dari Bayah, sebuah kota kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Lebak dan berada 170 km ke sebelah selatan dari ibukota Provinsi Banten. Sedangkan ibunya, Chusniah, berasal dari Weri, sebuah desa di pinggiran Kota Cilegon.

Masa kecilnya ia habiskan di Pandeglang hingga tamat SMP tahun 1989. Setelah itu ia dikirim ke Bogor untuk melanjutkan pendidikannya di SMA Mardi Yuana, sebuah sekolah yang dikelola oleh yayasan berbasis Katolik. Namun tidak serta merta lingkungan barunya membuatnya berganti pandangan. Kekosongan pasokan pada ruhaninya justru membuatnya memulai petualangan spiritualnya.

Selepas SMA, ia sempat mencicipi kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, sebuah sekolah pemerintah yang mengikatnya secara kedinasan. Alih-alih menjadi anak penurut seperti saat kecil dulu, disanalah gejolak mudanya mencapai titik didih yang membuat energinya meletup-letup. Aktivitas di luar kampusnya malah mendominasi waktunya, sehingga pada tahun kedua ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia dropped out. 1994, pupus sudah reputasinya sebagai pelajar pintar yang dibanggakan keluarga selama ini.

Titik balik itu kemudian semakin membawanya jauh mengenal dunia gelap yang selama ini hanya dikenalnya lewat wacana saja. Di sisi lain secara paralel pengembaraan spiritualnya terus saja ia lakukan. Berbagai pemahaman ia serap secara kritis. Namun tetap saja ia hanya singgah untuk kemudian pergi manakala ia merasa dahaganya tak dapat terobati, terlebih manakala logikanya diusik oleh klaim-klaim tempat singgahnya bahwa “kami paling benar, yang lain salah”.

Kontras antara gelap dan terang sepertinya belum cukup. Tahun 1996 ia kembali ke dunia pemerintahan dengan bekerja di Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Disitulah ia bertemu dengan dunia abu-abu, yang membuatnya semakin gundah.

Sepuluh tahun kemudian, 2006, sesuatu membawanya bertemu dengan seseorang yang memicu perubahan besar. Seiring dengan rahmat diraihnya, tahun 2007 Allah mentaqdirkannya menikah. Maka bertambahlah satu keluarga di sekian banyak keluarga yang telah berserak di sepenjuru bumi. Melengkapi rahmat itu, satu tahun kemudian ia dikaruniai seorang putri yang ia namai, Layla Rashida Anis.

Pengalaman membangun sebuah keluarga lebih menambah wawasannya. Kompleksitas penyesuaian di antara suami istri,  formulasi dalam mengurus anak, dan persoalan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang & papan menguji kemampuan yang baru saja diperoleh. Energi yang luar biasa dikuras, namun dalam perjalanan itu, daripada tergoda oleh kegundahan,  ia malah sibuk memunguti hikmah pembelajaran yang tak terhitung banyaknya.

Kini, meski ia masih bertahan di dunia abu-abu itu, namun letupan api dalam dirinya telah berkurang drastis. Dalam deraan tantangan perubahan yang menuntut ketabahan ia kini merasakan ketenangan dalam hidupnya.  Semoga saja perjalanan perbaikan ini dapat merevolusikan dirinya menjadi pohon kokoh yang merindangkan banyak orang dan menebar kesejukan bathin bagi siapa pun yang berteduh di bawahnya.

Kirim artikel ini ke :
  • Google Bookmarks
  • Facebook
  • Twitter
  • email
  • Print

Kompetisi Blog Banten