Vespa Tua : Sebuah Romantika
Jarak Rangkasbitung ke Pandeglang adalah 23 Km. Jarak Pandeglang ke Serang adalah 25 Km. Berarti, setiap pagi aku harus menempuh 48 Km untuk mencapai kantor. Berarti lagi, setiap hari setidaknya ku tempuh 96 Km pulang pergi kantor. Bagi kendaraan dengan mesin V6, jarak ini tentu tidak ada apa-apanya. Dengan power dan speednya, jarak itu bisa dilahap sebentar saja. Dengan kenyamanan fasilitas di dalamnya, anda bisa tetap nyaman dan dapat menjaga rapinya penampilan saat tiba di tujuan.
Kontradiktif dengan hal tadi, setiap pagi aku harus berupaya agar vespa tuaku dapat hidup. Langsung “di-slah” (kick starting) dia emoh hidup. Sepuluh kali anda slah pun belum tentu dia hidup. Yang ada kaki anda akan langsung pegal, dan keringat pasti langsung menetes. Pupus sudah kesegaran pagi dan aroma minyak wangi yang baru beberapa saat disemprotkan…
Cara terbaik adalah dengan memiringkan body vespa ke kanan. Dengan konstruksi karburatornya yang unik, cara ini dapat mengalirkan bensin dari tangki ke ruang bakar. Dengan ini diharapkan dapat segera memicu terjadinya letupan pembakaran di ruang bakar. Tapi ini pun harus diperkirakan dengan tepat. Jika bensin yang mengalir ke ruang terlalu banyak, penyiksaan jilid 2 akan anda hadapi. Bensin yang terlalu “banjir” di ruang bakar justru membuat pemicuan pembakaran menjadi sulit.
Jika ini terjadi, maka anda harus membuka busi dan mengeringkan ruang bakar dengan jalan men-slah-nya berulang-ulang. Busi lalu dipasang lagi, dan… berdoalah semoga vespa dapat langsung hidup… Jika tidak, minta bantuan tetangga untuk mendorongnya sebentar… haha..
Menempuh jarak 96 Km setiap hari dengan vespa tua merupakan perjuangan. Getaran mesin yang kuat dengan cepat dapat membuat lelah. Jika saja dalam sebulan hari kerjaku adalah 24 hari, maka dalam sebulan kutempuh jarak sebanyak 2304 Km. Selama satu tahun rutinitas ini kujalani. Total jendral, tanpa menghitung perjalanan lainnya, berarti tahun ini telah kutempuh sekitar 27.000 Km.
Pada titik inilah rupanya vespaku pun akhirnya mengalami kelelahan yang tak tertahankan lagi. Pagi tadi dia unjuk rasa. Dia susah hidup dan ketika hidup dia emoh dipacu cepat. Beruntung, meski harus meniru cara keong berjalan, akhirnya aku dapat mencapai bengkel temanku di Pandeglang. Alih-alih sampai di kantor, aku malah nongkrong di bengkel seharian karena rupanya vespaku mengajukan tuntutan yang banyak yang jika tidak dipenuhi dia tentu akan berunjuk rasa lagi. Duh…
Beberapa orang yang bersimpati pernah menyarankan agar aku mengganti kendaraanku. Dan jawaban yang kuberikan pada mereka sama. Tidak. Telah 10 tahun kupelihara vespa ini. Aku sangat menyayangi vespa ini. Bahkan ketika aku dipercaya untuk “memegang” kendaraan dinas pun, dengan suka hati kukembalikan kendaraan itu seraya kukatakan bahwa vespa ini pun sudah cukup bagiku.
Kesulitan yang kualami dengan vespa, kelelahan yang kurasakan setelah mengendarainya, panas terik yang memanggang, atau hujan yang membasahi pakaian adalah romantika tersendiri bagiku. Dalam kesulitan demi kesulitan itulah justru terdapat banyak keindahan. Sepuluh tahun mengendarai vespa membuatku banyak belajar. Mengenai perjuangan, mengenai kesabaran, mengenai keikhlasan, dan mengenai kesederhanaan. Sembra una vespa!!
Tags: Aroma Minyak Wangi, Banjir, Bensin, Getaran Mesin, Jika Tidak, Kanan, Konstruksi, Kuat, Lelah, Nyaman, pandeglang, Penampilan, Pupus, Rangkasbitung, Romantika, Sepuluh, Serang, Tangki, Tiba, Titik, vespa






















































Ada 2 komentar
aa
kalau sudah nyusahin untuk apa terus dipelihara… saatnya piara satu lagi mank..
19 Apr 2009
vita
ya kendaraan dinas diterima aja, sementara si vespa tetep disimpen n dirawat
tapi lucu juga ntar klo lala dah bs bediri, dia bediri di depan gitu hihihi
23 Apr 2009
Tulis komentar